Dilarang Terkena Sinar Matahari Membuatku Jadi Penghafal Qur'an

Intan Nur Imani adalah nama seorang gadis kelahiran Garut. Ia bertempat tinggal di kampung Sayuran Rt 04/Rw 09, Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Seorang gadis yang harusnya lebih banyak melakukan kegiatan diluar rumah, menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya serta mengenyam pendidikan untuk masa depan yang ia harapkan, namun kini ia harus tetap tinggal di rumah. Membayangkan betapa senangnya gadis-gadis normal diluar sana yang bebas melakukan apapun yang disukai tentu membuatnya sedih.
Bukan keinginannya memiliki penyakit semacam ini, penyakit yang membuatnya harus terkurung di tempat yang ia sebut rumah itu. Penyakit yang membuatnya tak boleh merasakan kembali hangatnya sinar mentari, menjadikannya merasa bahwa ia bagaikan punuk merindukan bulan. Lupus merupakan nama dari penyakitnya, begitu menyayat hatinya dan kedua orang tuanya setelah dokter memvonis dirinya terkena penyakit Lupus yang membuatnya tak boleh terkena sinar mentari. Berbulan-bulan ia menahan rasa sakit yang begitu amat sakit yang orang lain tak mampu merasakan apa yang ia rasakan.
Sang ayah Nanay Zaelani Muttaqin tak mampu melihat lebih lama anak gadisnya hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun, dan akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan anak gadisnya ini menghafal Al-qur'an. Setiap satu minggu sekali sang ayah antarkan anak gadisnya ini untuk menyetorkan hafalannya pada guru tahfidznya. Ia lakukan menghafal dan menyetorkan hafalan itu hingga akhirnya ia selesaikan hafalan qur'an 30 juz. Dan karena anak gadisnya ini telah mengahafal al-qur'an, sang ayahpun berpikir untuk membuatkan rumah tahfidz di rumahnya.
Berawal dari tiga santri yang menjadi santri rumah tahfidznya. Pada saat itu ia menghafal sambil membuka rumah tahfidz ini, yang ia dan ibunya berinama rumah tahfidz Ash-Shaf. Dua tahun ia lewati dengan penuh kesabaran dalam menahan rasa sakit dari penyakitnya. Isak tangis menjadi satu-satunya yang mampu ia lampiaskan. Kehendak Allah ia terima dengan lapang dada dan rasa ridho. Menjadikannya lebih dewasa dalam menjalani hidup.
Dengan jalan yang ia tempuh, langkah demi langkah ia jalani hingga akhirnya santrinyapun mencapai 70 lebih santri yang terdiri dari santri putra dan santri putri.
Bukan sulap bukan sihir, selama tiga bulan terakhir ini ustadzah Intan merasakan bahwa penyakitnya tak kunjung kambuh lagi.
" dengan khatamnya alqur'an, memberikan banyak keajaiban dalam hidup saya, memberikan obat luar biasa bagi penyakit saya dan Allah izinkan kami mempunyai rumah tahfidz", ujar ustadzah Intan.
Mereka berikan kesempatan bagi siapapun yang ingin mengahafal qur'an dengan memberikan sarana tempat tinggal dan memberikan makan gratis bagi santri yang tinggal di rumah tahfidz Ash-Shaf tersebut. Rumah tahfidznya ini gratis bagi siapapun. Keinginan menjadikan generasi bangsa untuk menjadi anak-anak yang bangun saat subuh membuatnya berpikir untuk menerima setoran hafalan setelah subuh.
Dalam komunitas Lupus sendiri kebanyakan dari mereka bertambah parah dan bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia. Benar-benar the miracle of qur'an. Pesan yang ia sampaikan adalah bahwa kita harus menjadikan Alqur'an sebagai prioritas dalam segala hal.