Memupuk Rasa Sabar

Memupuk Rasa Sabar

Oleh: Tia Apriati Wahyuni

Sabar. Bukan sekedar menunggu. Lebih dari itu. Jika sabar adalah sebuah kata pasif, maka duduk dan berdiam diri cukup untuk menggambarkan sebuah kesabaran. Nyatanya? Tidak sama sekali. Di banyak situasi, sabar justru sebuah tindakan sederhana namun tidak semua orang mau dan mampu untuk melakukannya.

Sabar menahan lisan dari perkataan buruk. Sabar menahan penglihatan dari pandangan yang diharamkan. Sabar menahan langkah dari tujuan yang buruk. Sabar menahan dari segala sesuatu yang haram. Sabar mengemban amanah yang Allah SWT berikan.

Jika diri masih berkeluh kesah, coba ajak mata dan telinga untuk mendengarkan dawai kehidupan lain. Kehidupan yang menurut indra penglihatan dan pendengaran ialah kondisi yang jauh dari kata beruntung.

Ketika kita masih mudah mendapatkan sepiring nasi dan semangkuk sayur bayam, maka di luar sana ada banyak orang harus mengorek tong sampah guna mendapatkan sesuap nasi. Tanpa memakai alas kaki dan menggunakan pakaian lusuh, ia berharap sumber kehidupan dari sisa-sisa kehidupan orang lain. Pemulung ini paham dan menerima jika tidak ada yang memperdulikannya. Apa yang istimewa dari ia dan pekerjaannya? Hanya manusia pemungut sisa kehidupan orang lain.

Jika antrian keluhan atas sebuah takdir diberikan, maka merekalah yang jauh lebih berhak mendapatkan tiket antrian itu. Mengeluhkan atas sesuap nasi yang harus ia rogoh dari busuk, rumah yang lebih mirip dengan kandang hewan, dan pakaian yang lebih cocok dengan kain lap pel. Begitu bukan?

Maksud dari keluh kesah di sini adalah rasa tidak syukur atas segala pemberian yang Allah SWT berikan. Kurangnya rasa syukur, bisa mempengaruhi kadar sabar di dalam hati. Ternyata rasa sabar memang harus banyak dipupuk dengan kata syukur. Agar bisa tegak untuk menjalani kehidupan.

Ini hanya secarik realita kehidupan untuk memupuk sabar dalam nurani. Tapi, bukan berarti kita tidak boleh berkeluh kesah. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang berkeluh kesah. Allah SWT justru menyukai hamba-Nya yang suka mengadu hanya kepada-Nya. Itu pertanda bahwa tiada daya dan upaya selain karena Allah SWT.

Foto: DetikNews