Berlepas dari Penilaian Manusia

Berlepas dari Penilaian Manusia

Oleh: Tia Apriati Wahyuni

Rasa-rasanya memang begitu. Tidak ada jalan lain selain berlepas diri dari penilaian manusia. Bukan maksud tidak menerima masukan atau kritik, karena mata dan telinga telah Allah SWT berikan agar bisa menerima nasihat dari sesama makhluk ciptaan-Nya.

Hanya saja, mungkin hati dan fikiran ini telah keliru dalam memandang penilaian manusia. Pujian dan cacian malah menjadi fokus utama dalam mendengar dan melihat. Akhirnya, resah, gelisah, dan lelah pun didapati di setiap ujung perbuatan. Maksud hati ingin tampil sebagai panutan dengan hiasan pujian di bibir-bibir manusia, hingga mata me reka terbelalak saat kaki melintas, justru hinaan dan perilaku buruklah yang tampak jelas dan menjadi buah bibir.

Berusaha sekuat tenaga dan hati agar menjadi manusia berstandar umum, layaknya mereka yang dipandang "wah". Justru kelelahan demi kelelahan semakin terasa. Setiap tawa terasa menghina, setiap pandangan dingin terasa menusuk, seolah tiada nilai dihadapan manusia.

Belum lagi membangun citra. Cita-cita dan realita, yang sulit untuk dihubungkan. Sekuat tenaga dibangun jembatannya, hingga gelap mata untuk berhenti membangun. Lupa, jika jembatan itu dibangun tanpa ada penyanggah yang kuat, hanya sekedar menempel. Roboh lah ia, saat hujan dan badai datang.

Bukan mengharamkan berusaha dengan sungguh-sungguh, tapi kerja keras yang dilakukan tanpa niat yang tulus, akan berbuah pahit. Bahkan tiada nilai dihadapan Rabb Semesta Alam.

Jadilah hari ini, tiada jalan keluar dari kegelisahan, keresahan, dan kelelahan yang sia sia selain berelepas diri dari penilaian manusia.

Masih di pembahasan yang sama, tentang penilaian manusia. Semakin diri mengharapkan sanjungan dan pujian manusia, maka sebanyak itu pula kekecewaan, kekhawatiran, dan rasa lelah yang tak berujung akan dirasakan.

"Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia," begitu perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib.

Sifat manusia memang begitu, memandang sanjungan dan pujian selalu terlihat indah dan terasa manis. Tapi, lebih tepat seperti manis sodium. Manis di awal, terasa pahit diujung waktu. Lelah sekali saat "standar manusia" harus terus diikuti. Pantaslah Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya agar cukup melakukan segala sesuatu karena satu alasan, Allah SWT.

Hanya Dia yang Maha Melihat niat di sudut hati hamba-Nya. Hanya Dia Maha Bijaksana atas segala perbuatan yang dilakukan oleh hamba-Nya, dan hanya Dia yang Maha Pengampun atas segala kesalahan hamba-Nya.

Tidak terbayang jika manusia yang menjadi juri utama dalam kehidupan. Jika seleranya saja bisa berubah, bagaimana dengan penilaiannya?

Selama jasad tegap di atas tanah, selama itu pula penyakit budi pekerti bisa datang dan menjangkit hati dan perilaku. Selama itu pula manusia harus selalu mengadakan perbaikan demi perbaikan. Saling belajar dan mengingatkan bahwa kita sedang duduk di dalam madrasah kehidupan. Dimana setiap diri harus saling membantu dan melengkapi satu sama lain. []

Gambar: Pexeles