Pelepasan Santri Rumah Tahfizh

Pelepasan Santri Rumah Tahfizh

Rumah Tahfizh Center (RTC) telah membuka kesempatan bagi anak-anak di seluruh penjuru Indonesia untuk menjadi keluarga besar Allah dengan menjadi penghafal Alqur'an. Sejak awal tahun 2019, pembukaan beasiswa untuk santri rumah tahfizh telah dibuka dan diikuti oleh ratusan anak-anak.

Setelah ujian yang dilakukan oleh assatidz Rumah Tahfizh Center, santri terpilih pun dinyatakan lolos dan ditempatkan di Rumah Tahfizh Daarul Qur'an. Seperti Jum'at (3/5) lalu, sebanyak lima santri dilepas oleh Rumah Tahfizh Center menuju Rumah Tahfizh An-Nuur yang bertempat di Jatiasih, Bekasi.

Didampingi orang tua mereka, kelima santri tersebut nampak tidak sabar lagi untuk memulai aktivitas menghafalnya. Sepanjang perjalanan dari kantor Rumah Tahfizh Center sampai Rumah Tahfizh An-Nuur mereka tetap terjaga dan tidak lupa memurojaah hafalan Alqur'annya.

Ustadz Agus Jumadi, selaku Manager Rumah Tahfizh Center pun ikut mengantar santri menujuRumah Tahfizh An-Nuur. Sesampainya di lokasi, rombongan disambut oleh Hanibal dan Ayustine Diah, mereka adalah pemilik Rumah Tahfizh An-Nuur. Tidak lupa Ustadz Imron pun turut menyambut, ia adalah satu-satunya pengajar di rumah tahfizh tersebut.

Prosesi acara serah terima dari orang tua kepada Rumah Tahfizh Center dan diteruskan kepada Rumah Tahfizh An-Nuur berlangsung dengan haru. Sebelum santri secara resmi dilepas orang tuanya, mereka terlebih dahulu diberikan penjelasan tata tertib dan peraturan di Rumah Tahfizh oleh Ustadz Agus Jumadi.

Dalam pemaparannya, Ustadz Agus Jumadi berkata, "kali ini, kami mengantar lima santri ke Rumah Tahfizh An-Nuur, ada yang SMP dan SMA. Selamat kepada santri dan wali santri, doakan anak-anaknya untuk dapat menghafal Alqur'an dengan baik agar menjadi hafizh Qur'an."

Ia mengatakan bahwa keikhlasan dan doa orang tua sangat berpengaruh dalam kelancaran menghafal anak-anak di rumah tahfzih. Selain itu, pihaknya dan Rumah Tahfizh An-Nuur akan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya untuk membimbing dan mengarahkan para santri agar tidak hanya dapat menghafal Qur'an, akan tetapi memiliki akhlaq layaknya Qur'an.

Hingga tiba saatnya serah terima dari orang tua kepada Rumah Tahfizh, masing-masing santri memluk ayah dan ibunya lantas meminta maaf atas seluruh kesalahan yang pernah mereka perbuat. Begitu pula orang tua yang tidak dapat menahan air mata. Sehingga, suasana haru penuh isak tangis pun tidak dapat terelakkan.

Orang tua santri mengatakan bahwa pasrah dan menyerahkan secara penuh anak mereka kepada Rumah Tahfizh An-Nuur untuk dapat dididik. Selebihnya, mereka tetap mendoakan dan memberikan dukungan agar buah hatinya lekas menjadi hafizh Qur'an.

Hanibal, selaku pemilik Rumah Tahfizh An-Nuur merasa sangat senang karena telah kedatangan lima santri baru. Sebelumnya, ada satu orang santri yang telah berada di Rumah Tahfizh An-Nuur. Setelah ini, anak-anaknya akan bertambah banyak.

"Ssaya sangat senang sekali, memang inilah yang kami harapkan, dengan santri yang ada semoga bisa dimaksimalkan," ucap pria 52 tahun tersebut.

Ia telah berkomitmen dengan istri dan keluarga besarnya untuk membangun sarana menghafal yang baik. Maka, jika masih kekurangan fasilitas dan pelayanan bagi santri dan pengajar, dirinya akan lengkapi sesuai dengan kemampuannya.

Selepas memiliki Rumah Tahfizh, harapan besarnya adalah dapat membangun pondok pesantren tahfizh. Selain karena keinginannya untuk terlibat dalam dakwah Qur'an, Hanibal pun mengaku ingin terus belajar. Bisa jadi, dari dibangunnya pesantren nanti dapat mendorong kemauannya untuk terus belajar bersama para santrinya.

"Harapannya, cucu, ponakan, dikenalkan dengan suasana Qur'an, harapan besarnya ingin memiliki pesantren yang besar. Selagi itu untuk belajar lagi," pungkasnya.