Ketika Semarang Diuji
.jpeg)
Menurut Zakiyah Dradjat pendidikan agama islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang apada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.
Al Quran merupakan kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, mempelajari Al Quran maupun menghafalnya merupakan pendidikan yang utama bagi umat Islam.
Menghafal Alquran termasuk ibadah jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia. Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu menurut standar Alquran, adalah mereka yang memiliki hafalan Alquran. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”
(QS. al-Ankabut: 49).
Banyak dari anak-anak dijaman ini yang mempelajari beberapa mata pelajaran yang bisa di bilang sangat menguntungkan untuk kesuksesan dimasa depan nanti, namun tidak sedikit juga dari anak-anak yang memilih untuk mempelajari Al Quran dan menghafalnya.
Untuk mengapresiasi para anak yang menghafal Al Quran tersebut, maka tidak jarang disetiap daerah di Indonesia diadakan lomba menghafal Al Quran juga acara-acara kelulusan yang sering disebut Wisuda Tahfidz. Hal yang sama dilakukan oleh Rumah Tahfidz se-Indonesia yang santrinya sudah hafal 30 juz dalam acara Wisuda Thfidz Nasional (WTN). Dan tentunya diikuti oleh beberapa pesantren di Indonesia, beberapa pesantren takhassus juga beberapa rumah tahfidz di Indonesia.
Acara Wisuda ini, mula-mula didaahului dengan ujian para santri terelbih dahulu. Santri yang sudah mendaftarkan dirinya di acara Wisuda ini kemudia diuji oleh para penguji yang terpilih. Hafalan yang dimiliki para santri tentunya sudah mencapai 30 juz, sehingga waktu yang dibutuhkan pun tidaklah sedikit. Besar tentunya harapan santri untuk lulus dalam ujian ini.
Semarang merupakan salah satu kota yang mengikuti Wisuda Tahfidz Nasional (WTN) ini. Ujian diadakan tentunya sebagai syarat mengikuti acara Wisuda, selain itu ujian diadakan untuk mengetahui kualitas hafalan santri dan sebagai tolak ukur progres hafalan santri. Para santri menyambut ujian ini penuh dengan keseriusan dan penuh suka cita serta harapan yang besar untuk bisa lulus dalam ujian tersebut.
Kegiatan ujian ini berlangsung cukup khidmat dan pengarahan yang dilakukan oleh Koordinator Daerah (Korda) kota Semarang juga oleh dewan penguji yakni ustadz Rosyidun membuat susana ujian semakin kondusif.
Ujian ini berlangsung pada hari selasa, 12 Maret 2019 (12/03), dan waktu yang dibutuhkan tidak sampai berhari-hari, bahkan bisa selesai dalam satu hari. Jumlah santri dari Semarang yang mengikuti ujian kali ini berjumlah 25 orang dengan hafalan masing-masing 3o juz. Usaha para santri untuk lulus dalam ujian ini terus dilakukan. Para santri yang belum diuji harus menunggu gilirannya untuk diuji hafalannya, dan pengujian membutuhkan waktu yang cukup lama, karena hafalan yang diuji bukanlah hafalan yang sedikit, melainkan 30 juz.